IBUNYA ADALAH NERAKA (TAFSIR QUR’AN)

By +Theeas

Coba baca ayat-ayat Al Qur’an, tak diragukan lagi bahwa kitab Allah ini sangat kaya akan metafora atau perumpamaan. Ingatkah teman-teman muslim, metafora Qur’an seperti :

* Orang yang sia-sia amalannya, adalah seperti debu kemarau tahunan yang dihapus oleh hujan sehari.
* Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah maka pahalanya akan dilipatgandakan, seperti benih tanaman yang tumbuh dan mengeluarkan 7 bulir per benihnya, dan setiap bulirnya mengeluarkan 100 biji (Al Baqarah 261)
* Kehidupan dunia itu sangat sementara, ibarat kebun yang subur oleh hujan namun suatu hari angin kering membasmi kebun itu dan membuatnya lenyap sama sekali (Al Kahfi 45)

Dan Allah menciptakan metafora-metafora ini bukan tanpa alasan :

“Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS Ibrahim : 25)

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (QS Al Hasyr : 21)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (QS Al Kahfi : 54)

Sekarang Thee akan mengajak teman-teman pembaca explor ke 2 ayat Qur’an : Surat Al Qaari’ah 8 – 11 dan Surat Qashash 10. Dan eksplorasi ini akan dilakukan dari verbatim bahasa Arabnya. (Thee ambil tulisan ini dari salah satu chapter ebook Qur’an the Linguistic Miracle karya akhi Abdurrahman dari Inggris, download aja ebooknya di website dia itu, gratis. Dia menulis ebook 100+ halaman khusus tentang struktur bahasa Qur’an).

1) Ibunya adalah Neraka

Kalau kita buka Surat Al Qaari’ah 8 – 11 kita akan jumpai :

8. Wa ammaa man khaffat mawaa ziinuh — namun adapun dia yang ringan timbangan (amal kebaikan)nya
9. Fa ummuhu haawiyah — maka ibunya (ummuhu) adalah Haawiyah (salah satu nama neraka dalam Qur’an)

Setiap anak kecil berlari ke ibunya. Namun siapa yang mau berlari ke neraka? Tidak ada. Namun bagi orang-orang yang amal kebaikannya sangat minim, neraka kini adalah ibu mereka – dan tubuh mereka dipaksa untuk “berlari” kepada ibu barunya itu dengan kecepatan full!

Coba perhatikan pula bahwa seorang ibu menggendong dan menyelubungi anaknya, untuk melindunginya dan dia tidak akan membiarkan anaknya pergi. Dan apabila ibu “menggendong” anaknya dalam kandungan (hamil), bayi itu terlindung di dalam tubuhnya dan tidak bisa lolos darinya.

Maka itu, ibu neraka ini akan bertindak serupa terhadap “anak-anaknya” : menyelubungi dia dengan erat, dan tidak membiarkan dia lolos.

Kelanjutan ayat di atas :
9. Wa maa adraaka maa hiyah? —- dan tahukah kamu siapa dia? (“Dia” di sini memakai kata ganti wanita, seperti “her” dalam bahasa Inggris. Ayat ini untuk melanjutkan metafora “ibu” tadi).
10. Naarun haamiyah — Api yang sangat panas.

2) Dan Tuhan pun menyegel hatinya…

Ketika Nabi Musa lahir, Fir’aun mendapat mimpi kalau seorang bayi laki-laki bani Israel akan menggulingkan tahtanya. Segera ia memerintahkan agar seluruh bayi laki-laki Israel dibunuh. Yukabad, ibu Musa, tentu sangat hancur hatinya karena ia adalah seorang Israel dan baru melahirkan bayi laki-laki. Tapi Allah memberi inspirasi agar Yukabad memasukkan bayi Musa ke dalam keranjang dan mengapungkannya ke sungai Nil.

Lafadz Qashash : 10

“Wa ashbaha fuwaadu ummi Muusaa faarigh, inkadat latubdii bihi lawlaa arrabathnaa ‘alaa qolbihaa litakuuna minal mu’miniin”

“Dan hati ibu Musa menjadi kosong (faarigh) [kosong dari ketenangan]. Ia hampir saja membocorkan rahasia bayi laki-laki itu andaikan Kami tidak men-segel (rabath) hatinya hingga iapun termasuk pada golongan orang-orang beriman”

Faarigh artinya kosong. Dan “rabath” dalam bahasa Arab berarti “men-segel sesuatu sangat rapat sehingga jangan sampai ada kebocoran yang terjadi”.

Sekarang bayangkan ayat tadi :

Yukabad sangat takut dengan keselamatan anaknya. Ia sempat menyesal meletakkan Musa di sungai Nil sehingga ia sempat hendak meminta tolong orang lain untuk mencari Musa (sehingga beresiko membocorkan rahasianya). Namun Allah men-segel hati Yukabad (rabath), sehingga ketenangan tidak bocor dari hatinya. Dengan kata lain, Allah membuatnya tetap tegar dan percaya bahwa keselamatan anaknya pasti dijamin oleh-Nya. (Dan pada akhirnya, Yukabad akhirnya mendapat kesempatan untuk mengasuh dan menyusui anaknya di istana Fir’aun.)

No related posts.

Latest Comments
  1. azz

    keren, like.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.