MERASA BEGO BAHASA INGGRIS?? NGGAK LAGI SETELAH BACA INI…(PART 1)

Compiled by Theeas

Saya sama sekali bukan guru bahasa Inggris, loh…Asdosnya pun bukan. Tapi terus terang, tulisan ini juga bukan buat pamer…tapi buat sharing. Honestly, saya pernah mengalami masa-masa paling bego dalam bahasa Inggris. Waktu kelas SMP, saya pernah dapet nilai 4 sampai 3,5 di ulangan pelajaran ini. Ujian SPMB pun hampir jeblok gara-gara bahasa Inggris (malah terselamatkan sama IPA dan matematika—yang tadinya dikirain “musuh terkuat”). Belajar tenses-tenses dan ngapalin grammar pun, rasanya semua menguap di udara. Bener-bener males banget. Pernah dulu saya berpikir, I wasn’t born to do this, saya sama sekali nggak akan pernah bisa bahasa planet bumi bernama bahasa Inggris ini.

Tapi alhamdulillah, kini bahasa Inggris justru sahabat saya. 95% sumber artikel blog Half Science ini contohnya, dari mana lagi kalau bukan dari sumber berbahasa Inggris. Saya bisa membaca berlembar-lembar buku sains dan jurnal ilmiah tanpa membuka kamus sama sekali (asal jangan buku sastra, soalnya banyak bahasa kiasan yang aneh-aneh :-D). Saat ini saya juga ikut tujuh mailing list dan berbagai komunitas di internet yang harus memakai pengantar bahasa Inggris. Dan entah penting apa enggak, saya pernah mendapat skor TOEFL Preparation Test 580 (bukan aktual TOEFL sih, yang aktual TOEFL bisa US$ 200 biayanya). Intinya, saya sanggup membaca tulisan berbahasa Inggris, dan menterjemahkannya dalam otak dengan kecepatan sama seperti ketika saya membaca tulisan berbahasa Indonesia.

Apa rahasianya? Apakah ikut kursus atau les di tempat tertentu? Tidak. Saya tidak pernah ikut kursus bahasa asing seumur hidup saya. Tapi dikatakan instan, tidak juga. Kalau dihitung-hitung, butuh 5 tahun saya bisa berbahasa Inggris seperti sekarang (itupun belum level advance). 5 tahun yang terdiri dari : 4 tahun sambil malas-malasan, meremehkan, dan terpaksa ; dan 1 tahun sambil giat bersemangat.

Saya akan sedikit bercerita true story tentang tahapan “dari bego jadi jago” ini :-). Kalau misalnya Anda tidak sabar dan merasa “ahh, cerita ini nggak penting”, no problem, I have an option for you. Anda bisa langsung loncat ke bagian dua tulisan ini, MERASA BEGO BAHASA INGGRIS?? NGGAK LAGI SETELAH BACA INI…(PART 2) untuk langsung membaca tips-tipsnya. Namun bila Anda setia dengan tetap membaca bagian ini, I’ll highly appreciate it…hohoho

.

A Story Behind This….

1 tahun sambil giat bersemangat? Jadi gini deh asal muasalnya….

Jadi ayah saya, papi itu, sangat pushy banget, alias maksa, ke anaknya buat belajar bahasa Inggris dengan baik dan benar. Sampe-sampe saya dibikinin buku khusus Grammar sama beliau, yang isinya tenses-tenses sama kamus regular-irregular verb. Saya juga dibelikan kamus saku. Waktu itu saya masih SD kelas 5. Memang saya nggak pernah kursus formal bahasa Inggris, tapi “dikursusin” sama papi!

Sampai level tenses “past perfect continous” atau apalah itu, otak saya yang masih Pentium Satu Setengah itu mulai nggak loading. Bahasa Inggris mulai menyusahkan dan kaku, karena dijejali dengan kaidah susunan dan tata kalimat yang bikin pusing. Kenapa juga tenses Bahasa Inggris tu mesti banyak aturan waktu dan kata ganti—gitu pikir saya. Saya mulai bandel dan males-malesan belajar Bahasa Inggris. Diperingatkan dan dikuliahin papi nggak juga mempan. Akhirnya, papi menyerah dengan kekeraskepalaan saya, dan berhenti mengajari bahasa Inggris.

Tapi bukan berarti saya jadi membenci bahasa Inggris. Saya masih suka membaca sajak-sajak dan prosa Alfred Tennyson, menerjemahkan lyrics lagu-lagu Michael Jackson, Mike Oldfield, dan Nana Mouskouri, dan mendengarkan kata per kata pembicaraan tokoh-tokoh film kartun Disney. Saya sebenarnya tertarik ama Bahasa Inggris, tapi males kalau harus mempelajari grammar-tensesnya (Pernah nggak, ngerasa sama?).

Sedikit-sedikit lewat pelajaran bahasa Inggris di sekolah, saya akhirnya menemukan dengan sendirinya “ohh jadi grammar ini buat ini, buat itu”. Kebetulan pelajaran saat itu tidak memakai sistem hafalan per tenses seperti papi, tapi langsung dipraktekkan dengan membuat kalimat-kalimat dan paragraf. Ternyata cara itu jauh lebih efektif daripada menghafalkan tenses satu per satu. Tapi tetep aja, kalau disuruh membaca yang lebih dari empat paragraf….saya langsung migrain-migrain nggak jelas gitu….

Saat SMA, terjadi revolusi besar dalam hidup saya (alah lebai =p), dalam hal belajar bahasa Inggris. Jadi, guru bahasa Indonesia saat itu menugaskan PR “menulis 1000 kata”. Ada temen yang sampai ngitungin satu persatu jumlah kata dalam karangannya demi target “1000 kata” :-D.  Tapi saya saat itu nggak pakai pikir-pikir panjang, saya mau mengarang satu hal : biografi dan karakter musik Enya. Soalnya, saya lagi suka-sukanya banget sama musisi new age gothic satu ini.

Hal pertama yang saya lakukan tentunya membuka internet, mencari info tentang Enya. Mengingat doi nggak terlalu dikenal di Indonesia, saya terpaksa mencari ke situs Barat. Dan jeng-jeeengg…..dapatlah satu tulisan biografi berbahasa Inggris yang paaaanjaaaanngg……sekaleee. Saya waktu itu kaget berat karena Enya yang terlihat di MTV seperti masih berumur 25 tahun, ternyata umurnya sama dengan ibu saya dan sudah berkarir di dunia musik selama 20 tahun lebih. Jadilah saya shock, migrain nggak jelas, dan mual-mual di warnet, membaca rentetan tulisan superpanjang biografi Enya seperti grup band doi dulu, daftar tur dan manggung live, album, penghargaan, dll.

Tapi karena begitu PENASARAN dan INGIN TAHU, saya bela-belain membaca biografi panjang itu (saya masih ingat kalau sumbernya dari sebuah fansite Hungaria, headernya foto gothic Enya, dan mencapai 12 halaman waktu di-paste ke Microsoft Word). Membaca pertama dan kedua, saya sempat banyak misunderstood saat membaca kalimat-kalimatnya. Kalimat maksudnya A dikira B. Tak terhitung banyaknya kata-kata yang dilingkari karena tidak mengerti artinya, dan entah berapa puluh kali membolak-balik kamus.

Namun ternyata, migrain-migrain saya itu mulai reda begitu saya terbiasa dengan biografi panjang ini. Saya menemukan juga kalau cara paling efektif dan cepat dalam mentranslate adalah dengan “per konteks” bukan “kata per kata”. Hanya dengan mentranslate per konteks kalimat atau paragraf, kita bisa mentranslate tanpa kamus. May sounds easy, but need a little exercise ^.^

Tanpa sadar saya akhirnya belajar listening dan writing lebih baik karena keranjingan Enya ini. Saat itu saya ngefans tapi nggak ngerti “musik dunia-lain” Enya, jadi saya banyak membaca review album dan artikel para kritikus musik. Saya juga join dengan fan club di internet dan buka-buka YouTube untuk menonton interview ekslusif Enya, yang pastinya nggak bakalan didapet dari Stasiun TV manapun di Indonesia. Kadang-kadang listening interview Enya saat itu agak sulit di kuping karena logat Irlandia doi yang kental banget. Tapi berhubung lagi in love berat, jalan terus!

Di fan forum saya sering banget sampai mengetik prelude “sorry for the bad english” saat posting karena jujur aja, bahasa Inggris saya jelek gila waktu itu. Tak hanya mendapat seabrek-abrek data untuk PR mengarang, tanpa sadar kemampuan bahasa Inggris saya meningkat drastis. Sampai tugas mengarang itu selesai, masih terasa efek jangka panjangnya.

Tanpa terasa, saya mulai mempelajari grammar, tenses, dengan otomatis dan tanpa paksaan. Soalnya ‘kan malu sendiri pas ikut forum fanclub Enya (enyafan.org) yang member asal Afghanistan, Iran, ama Bosnia yang nggak berbahasa ibu bhs. Inggris aja bisa oke banget bahasanya,,,,Yang dari Indonesia (saya) nggak boleh kalah!!! Lagian aneh juga kalo inget dulu ikut chatting sambil buka-buka kamus Encarta!

Emang saat setengah jalan itu, saya sempat berhenti membuka internet dan berhenti belajar bahasa Inggris, karena mengejar SPMB. Saya justru hampir jeblok “berkat” Bahasa Inggris, karena terlalu nervous akibat demam ujian. Tapi alhamdulillah tidak patah semangat. Metode visiting Enya ini tetap lanjut sampai saya kuliah. Because I already discovered a very fun way to learn English!

Dan, akhirnya saya menemukan “1 tahun paling giat dan bersemangat” belajar bahasa Inggris. Dihitung-hitung, 1 tahun itu terdiri dari 3 bulan “berusaha bermetamorfosis” dan sisanya “ekspansi kemampuan”. Dan ini semua berangkat dari kemauan. Bayangkan 4 tahun lalu yang habis sia-sia, hanya karena “tidak ada kemauan” untuk belajar Bahasa Inggris.

Bila saya yang begitu bego ini bisa, maka Anda juga bisa!!

.

>>>> Bersambung ke MERASA BEGO BAHASA INGGRIS?? NGGAK LAGI SETELAH BACA INI…(PART 2)

 

bannerpost

 

Related posts:

  1. MERASA BEGO BAHASA INGGRIS?? NGGAK LAGI SETELAH BACA INI…(PART 2)
Latest Comments
  1. David

    Wah, betul sekali. Ini artikel yang sangat sangat sangat bagus, bisa membantu belajar bagi yang sedan learning English. Waduh..pokoknya ini tips keren.

  2. Suatmaji

    EnglisHour.Co.CC
    English at Your Mouse Clicks! English Help with Native Speakers! The Fast Track to Learn English! The Linguistic Skills Builder.

  3. irfanluthfi.f

    momok

  4. Agusriza

    Nice Posting..thx so much…
    intinya, hrs smngat dan tw kesukaannya apa…good luck!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.